Recent Posts
Featured Posts

Menapak di Negeri Sang Budha


Sebuah perjalanan panjang menjelajahi NEPAL


Pegunungan Himalaya

Rasa kekhawatiran terasa memuncak saat mendengar bencana gempa bumi yang meluluh lantakkan Nepal beberapa bulan lalu, betapa tidak, negara ini menjadi tujuan destinasi bagiku untuk menjelajahi keindahannya. Sempat terpikir untuk membatalkan perjalanan ini, alasan keselamatan tentu jadi pertimbangan utama. Apakah negeri yang secara perekonomian masih kesulitan ini mampu bangkit dalam waktu singkat?! Tapi aku memberanikan diri untuk tetap melakukan perjalanan ke negara ini, setidaknya aku ingin menjadi saksi dan pencatat kisah tentang Nepal setelah musibah itu, tentang bagaimana rakyat Nepal mampu bangkit dari duka yang menjadi perhatian dunia.

‘Kunjungi nepal saat musim terdinginnya’ begitu seakan pesan yang kutangkap dari sebuah media traveling, Mungkin dalam musim terdingin Nepal kita bisa lebih meresapi perjalanan disebuah negeri yang terdekat dengan langit, mungkin dengan demikian kita bisa merasakan Tuhan sedang menuntun kita lebih hangat dalam dekapanNya.



Thamel Kota Khatmandu Nepal

Khatmandu, tampak tak seperti bekas terluka selepas gempa bumi yang memporak porandakanya tubuhnya, walau beberapa sudut kota menunjukkan beberapa sisa nestapa tapi kebangkitannya dari duka telah mengisi riuh jalanan dan kegegap gempitaan tersebut seperti menyambutku.


Butuh kelincahan mengendarai kendaraan di negara ini, beberapa kali sopir yang membawa kami dari Bandara Tribhuvan menuju tempat bermalam, sebuah hotel kecil didaerah keramaian pelancong, Thamel. Kendaraan meliuk menghindari pejalan kaki atau kendaraan lainnya, tanpa sabuk pengaman aku berkali mesti menahan dorongan tubuhku kala mobil berhenti mendadak. Aku pun mulai terbiasa dengan bunyi klakson kendaraan bergemuruh setiap saat, saling bersautan seperti sebuah musik jalanan yang dimainkan seceria hati, mengesampingkan keharmonisan nada ataupun arahan sang pemandu. Berkali pun aku terpaksa menutup hidung terhadap debu yang bertebaran dijalan masuk keruang kabin yang terbuka. Sepanjang jalan pun banyak masyarakat setempat yang berdiri berkelompok, memenuhi sisi-sisi bahu jalan, beberapa diantara mereka sedang bermain karambol. Mungkin butuh perjuangan keras bagi pemerintah Nepal untuk membereskan masalah transportasi, infrastruktur dan juga pengangguran.


Waja anak anak nepal

Negara yang berada berbatasan dengan china dibagian utara dan India dibagian selatan memang menyimpan pesona dalam himalayanya disepanjang sisi utaranya, tersembunyi dalam kesipu-sipuannya menatap dunia, bermahkotakan himalaya dengan 10 puncak putihnya yang menjadi gunung tertinggi di dunia, tak salah Nepal adalah pesona yang tidak bisa diabaikan, menggoda bagi para mata untuk menjamah bebutir peraknya atau mencoba mendekat tuk merasakan bagaimana sentuhan kilaunya merasuki sukma.

Negeri dengan pegunungan tempat para dewa bersemayam yang baru menjadi republik dari sistem kerajaaan di tahun 2008 ini sangat populer bagi penjelajah diseluruh dunia. Sebagian besar adalah para pelancong dari Eropa atau Amerika. Mereka datang kesini, bukan karena mereka tidak pernah melihat salju atau gunung putih dinegaranya, tapi Himalaya adalah altar berseri bak seorang gadis yang tersembunyi dalam sunyi menatap dentang usianya dari balik jendela. Membuat siapapun menoleh karena kilaunya. Dan bersedia terbang jauh tuk meresapi keheningannya.




Bakhatapur Square

Suhu yang terasa menggelegar dengan rasa dinginnya tetap menyentuh kulit menjadi terasa ngilu walau baju dingin berlapis telah kugunakan, mungkin karena suhu Jakarta yang panas telah membuat aku beradaptasi dengan kegerahannya. Perlu tambahan baju hangat yang terpaksa kubeli ditoko setempat, sebab perjalanan ke Himalaya tentu akan lebih menantang rasa bekunya dibanding Khatmandu. Nepal, memang bukan negara maju seperti negara-negara Eropa, cara mereka menyikapi musim dingin pun masih terasa klasik, dengan berselimutkan tebal tanpa pemanas ruangan, jadi aku mesti beradaptasi dalam waktu singkat dengan suhu dinginnya, yang bisa mencapai titik beku dimalam harinya.


Sebagai negara komunis, Nepal terlihat sangat religius, rumah ibadah berdiri sangat megah dan semarak dengan para pemeluknya. Atribut keagamaan yang digunakan penduduknya tampak bebas digunakan tanpa ada kesan ketakutan atau halangan. Penghargaan kepada keyakinan terasa mengakar disini, ‘Budha was born here” demikian banyak tulisan yang kutemui diberbagai kendaraan atau tulisan dipertokoan meski penganut mayoritasnya adalah Hindu


Perjalanan kami lakukan dari Khatmandu dengan menggunakan bis yang biasa diperuntukan untuk wisatawan, cukup nyaman, walau beberapa penumpang muntah karena perjalan berliku dan terpaksa membuka jendela yang membiarkan angin dingin masuk. Delapan jam dibutuhkan untuk sampai di pokhara, sebuah kota yang menjadi pavorit bagi wisatawan asing untuk melihat keindahan pegunungan himalaya lebih dekat.



Tai oax

Di kota ini pula saya bertemu dengan Tai Oak, bersebelahan kamar dengan saya, seorang berkebangsaan Amerika yang meninggalkan segala kemegahan Los Angeles dan menghabiskan waktunya bertahun tahun menjadi yang dia sebut menjadi kaya tanpa punya apa-apa. Berusia 70 tahun, ia biarkan rambut, jenggot dan kumisnya memanjang, menyerupai Leonardo Da Vinci, menjadi seorang petapa adalah pilihan hidupnya. Sudah tiga bulan ia di Nepal, sebelumnya menghabiskan waktunya bertahun tahun di India. Menurut Tai saat anda menginginkan banyak hal berarti anda belum kaya, “saya tidak punya rumah, tidak punya mobil tapi saya merasakan kalau saya kaya raya, sebab saat semua yang saya miliki saya lepaskan maka kedamaian yang selama ini terhalang menjadi masuk dengan sendirinya” ujarnya.

Orang memang akan mencari apa yang tidak ia miliki, walau melepaskan apa yang telah ia nikmati sekalipun. Memang tidak sedikit orang barat yang saya temui memilih hidup seperti Tai. Mungkin pilihan hidup seperti Tai bukanlah yang menarik bagiku, atau memang bukan hal yang tidak umum bagiku yang terbiasa dalam budaya hedon. “jika cuaca bagus, engkau bisa memotret pegunungan Himalaya yang melirik tajam dari Pebukitan Sarangkot, saat beningnya terpancar nyala di Danau Phewa, cukup naik sampan yang bisa didayung sendiri sekitar 20 menit keseberangnya” ujar Rhames, pemilik penginapan tempatku bermalam. Tapi saat ini awan dan kabut yang menutupi jarak pandang seperti menyembunyikan hasratku tuk melakukan itu semua.


Suara Burung Gagak yang bersautan menyambut pagiku, semula aku merasakan hawa kengerian sebagaimana fragmen yang sering kulihat di film horor ala Hollywood, Burung Gagak adalah pengganti Ayam Jantan disini dalam menyambut pagi, dan juga penanda waktu petang.

“Ini Keshab, dia akan membantu membawa barang bawaan anda sekaligus bisa memandu jalan” ujar Ramesh, memperkenalkan seorang lelaki ceking, berkulit gelap dan bertubuh tinggi padaku. Hari masih pagi, kantukku belum usai ditunaikan, hawa dingin yang mencapai empat derajat Celcius membuat aku harus bersenandungkan baju tebal berlapis tiga ditambah jaket yang membuat aku bisa bertahan walau tubuh terasa berat dan kaku dengan balutannya. Keshab membawa sebagian perlengkapan kami, terutama sleeping bag, untuk mencegahku menggigil saat bermalam di lodge setempat.

Perjalanan ke Nayapul

Persingggahan pertama kami adalah Nayapul, sebuah desa kecil dengan ketinggian 1070 meter diatas permukaan laut, yang memerlukan sekitar empat puluh lima menit dengan jip dari Phokara. “hayoo kita mulai petualangan kita” ujar Keshaf sembari mendahului melangkahkan kaki menuruni tangga untuk masuk ke gang sempit.

Beberapa wajah penduduk setempat menatap kami sembari tersenyum memberi salam khas Nepal. “Namaste” demikian ucapan setiap aku bertemu pada anak negeri, sambutan hangat dan senyum dengan gigi yang putih tersimpul malu. Rasa persahabatan terasa hangat mengalir setiap berpapasan dengan warga setempat.

Pelaporan bagi peserta penjelajah dilakukan tidak jauh dari kampung ini, lalu perjalanan yang menanjak dan berbatu menjadi tantangan untuk memulai perjalanan berikutnya. Kami memasuki area Konservasi Annapurna, dengan melalui beberapa perkampungan kecil yang menarik bagi kami untuk menyikapi perjalanan. Kawasan Annapurna adalah kawasan penyangga dengan kontur berbukit dengan Hutan Pohon Pipal yang menjadi cagar alam yang menjadi penyambung langsung dengan Pegunungan Himalaya. Sebagaimana jalan setapak yang dibangun dipebukitan, maka kami terbiasa melewati jalan dengan sisi kanan adalah tebing curam dan sisi kiri adalah lembah yang didominasi jurang, dibagian lembah ini sering terdengar gemericik air, jika kabut menepi dari peraduannya ditelan surya maka kita bisa melihat sungai gletser,

“Itu Sungai Bhurungdikhola, langsung mengalir dari Himalaya, melalui berbagai desa beratus ratus kilomil jauhnya, saat ini alirannya dalam puncak dinginnya, dan tidak pernah kering walau musim panas sekalipun” Nepal memang daerah kering, tapi air tawar seperti berlimpah ruah disini, himalaya adalah mata air abadi bagi penduduk nepal. Mereka menggunakan pipa untuk bisa sampai dipemukiman dan masuk kerumah penduduk, mengalir deras tanpa kran air yang menghentikannya. Pada siang hari suhu terasa cukup panas, dengan jalan setapak yang cukup tajam dengan elevasi yang mencapai 30 derajat lebih dengan beban dipunggung cukup menyita energiku yang baru pertama kali melakukan penjelajahan.



Tibetian

Beberapa kali kami berpapasan dengan penjelajah yang sudah kembali, berkolompok sesuai dengan negara masing-masing. “Anda dari malaysia?” begitu beberapa pertanyaan yang sering kami terima saat beristirahat ditempat makan atau dibeberapa titik peristirahatan saat menaiki ribuan anak tangga. Wajah melayu kami menjadi tanda, dari penuruturan keshaf, sangat jarang orang Indonesia yang menjelajah, ditambah banyak pemuda Nepal yang menjadi pekerja di Malaysia. Adat istiadat nepal, membuat kaum prianya bebas keluar negara tersebut untuk mencari penghidupan, sementara kaum perempuannya dilarang melakukan itu.


Mentari disini masih lantang dalam kegarangannya sehingga jalan setapak yang penuh tanjakan dalam siang hari terasa menyengat meski angin yang deras bergeretak membuat ia kadang terasa dingin. Bajuku sudah basah dengan keringat, tapi angin dingin yang berhembus membuat aku tetap memilih menggunakan jaketku. Posisi matahari pada bulan desember membuat belahan utara lebih terasa dingin tetapi kondisi Nepal yang kering membuat perpaduan antara tersebut membuat kegerangan pada siang hari dan menggigil pada malam hari


“ini Talli Nepal” saat Keshaf menyodorkan makanan yang kupesan, mirip dengan Kari India tapi dengan tambahan menu beragam, disajikan dengan piring besar terbuat dari logam kuningan, dengan beberapa mangkuk kecil masing-masing berisi kari daging, sayur, yogurt, dan sayur kacang. Santan menjadi dominasi utama makanan orang nepal, tapi kelapa sebagai bahan bakunya tidak ditanam dinegeri itu, mereka mengimpornya dari India.

Talli Nepal

“Porsi ini sangat banyak buatku” balasku, orang Nepal makan sangat banyak, pun wanitanya, dua kali porsi rata-rata orang Indonesia, mungkin hawa yang cukup dingin dengan aktivitas yang banyak bergerak, termasuk menaiki buki-bukit dengan beban dipunggung membutuhkan energi cukup besar, beberapa kali kami melihat penduduk nepal termasuk perempuannya membawa barang yang cukup berat menaiki bukit-bukit, jika cukup mampu mereka menyewa keledai untuk membawa barangnya.


“malam ini kita menginap diatas sana” tunjuk keshaf, membuat aku khawatir, sebuah bukit yang tinggi menjulang, tampak tersenyum sinis mengeledekku, nyaliku langsung menciut membayangkan keletihan dan nafas yang bakal tersengal memuncak setiap menaiki anak tangganya yang terjal mencuram. “masih mungkinkah kembali lagi?!” bisikku lirih.


Pada pukul 4 sore kami sampai ditempat yang dituju. “kita bermalam disini, semoga ada kamar kosong buat kita semua” kata Kesfah, lalu dia berbicara sejenak dengan pemilik lodge, sebuah tempat penginapan yang sangat sederhana, dengan ukuran cukup untuk tidur semata. Desa Tikhedhunga adalah perhentian pertama kali, sebuah desa kecil yang berada dilereng Kawasan Annapurna, dengan hamparan ladang bawang bekas panen. Sebagai orang yang tidak pernah menjelajah dengan beban dipunggung ini sebuah perjalanan yang menantang stamina, apalagi menaiki ratusan anak tangga dengan suhu yang menggelegar.


Esok paginya kami melanjutkan perjalanan “hari ini penjelajahan kita lebih jauh dengan elevasi lebih berat dari kemaren, kita harus sampai ke Gheropani sebelum matahari terbenam”, ucapan Keshaf menakutkanku, bagaimana tidak, kemaren aku sudah seperti berpisah antara nafas dan semangat, beban dipundak pun seperti bertambah berat, dengan jaket tebal karena suhu yang dingin, beberapa ruas jalan setapak meninggalkan butiran butiran es yang mengumpal, salah melangkah licinnya jalan akan bisa membuyarkan semua tujuanku. Ghorepani berada pada ketinggian 2860 meter diatas permukaan laut. Keshaf beberapa kali berhenti menungguku, jalannya sungguh cepat, tenaganya seperti berlimpah walau dengan bawaan lebih berat dariku.

Seorang peserta lainnya, Kokom, perempuan yang bergabung dalam rombonganku, jalan makin terseok, beberapa kali dia memegang perutnya “aku masuk angin” katanya “dulu waktu menaiki rinjani juga demikian, tapi pas turun bisa sembuh sendiri” sambungnya. Keshaf berpendapat lain, menurutnya ini adalah mountain sickness atau penyakit gunung merupakan suatu penyakit yang banyak menyerang para pendaki gunung. Penyakit ini terjadi terutama pada pendakian lebih dari 2400 meter. Tidak jarang, pendaki gunung meninggal karena mountain sickness. Kami pun makin khawatir dengan kondisi kokom yang makin drop. Pilihan untuk kembali sangat sulit dilakukan mengingat perjalanan yang sudah cukup jauh dilalui, sulit mencari klinik medis disepanjang jalan, kami hanya berharap segera sampai lodge berikutnya agar ada waktu dan ruang bagi kokom memulihkan dirinya.

Kami sampai hampir malam di Gheropani, tanjakan anak tangga ditebing yang curam, menguras energiku hingga lebih sering berhenti dari seharusnya, aku masih beruntung masih bisa melihat Gunung Annapurna sebagai gunung tertinggi kesepuluh di dunia pada warna emas nyalanya sebelum tenggelam dalam bayang hitam yang pekat, tampak memukau dalam hening sunyinya, tersenyum menggoda, mengelitikan semangat tuk menyala dalam bara terbaiknya. Untung ada tungku pemanas disini, diletakkan diruang utama dalam bentuk sebuah tabung besar yang terbuat dari seng tertutup untuk mencegah asap masuk dalam ruangan, lalu sebuah lubang kecil tempat memasukkan kayu, aroma hangat mengeluti tangan dan muka yang menggigil kedinginan malam itu. Aku berkumpul mengelilingi tungku, bersama beberapa pelancong lainnya tuk saling berbagi waktu.

Kokom langsung ambruk tak berdaya didalam kamar, tubuhnya lemah, muntah beberapa kali, kami semua cemas, lokasi kami terasing ditengah pebukitan, pertolongan darurat amat sulit didapatkan disini. “Besok pagi sebelum subuh, jika memungkinkan kita ke Poon Hill, kita bisa menyaksikan matahari terbit menyempil riang dari ujung himalaya, tapi saran saya kokom tidak ikut, sebab kita mesti menaiki bukit naik setinggi 400 meter lagi, ” ujar keshaf.


Poon Hill

Jam 5 pagi, kondisi di nepal pada waktu yang sama lebih gelap dibanding jakarta, aku sudah menggunakan jaket tebalku, walau beberapa sisi ruam masih terasa dingin. Kami terkejut, kokom walau badan cukup lemah sudah siap dengan pakaiannya, “izinkan aku mengikuti kalian sampai ke poon hill, aku sudah cukup jauh menjelajah sampai disini, aku tak mau dikalahkan dengan mengabaikan poon hill” ujarnya. Kami tak bisa mencegah, semangatnya mengagumkan. Kami hanya berharap agar kondisi kokom tidak memburuk, karena perjalanan pagi ini lebih menggigil dari sebelumnya.

Butuh sekitar 1 jam melalui anak tangga yang cukup sempit, sehingga jika berhenti untuk beristirahat mesti menepi agar memberi ruang bagi penjelajah lainnya. Pagi ini, kondisi lebih ramai, karena semua memiliki tujuan yang sama seperti kami. Aku mulai kehausan, aku telah melakukan kesalahan, meninggalkan botol minumanku dengan alasan tidak mau diberatkan, dua kamera yang kusandang dan perlekapan pendukungnya cukup merepotkanku, menambah beban yang menghambat gerakku, sehingga aku mengabaikan botol minuman, semula aku berfikir cuaca pagi aku tidak butuh air minum, aku salah besar, cuaca kering lebih membutuhkan banyak minum walau udara terasa dingin, dalam beberapa hari ini bibirku sudah pecah, terasa perih hingga menyulitkanku untuk makan.



Beberapa waktu sambil menunggu matahari terbit, aku melihat Kokom, ajaib, dirinya segar bugar dan penuh semangat, ”keindahan Poon Hill telah menyembuhkan aku” ujarnya sambil asyik memainkan gadgetnya untuk berselfie ria. Pukul 7 pagi pengunjung mulai turun, Poon Hill kembali sepi, meresapi sunyi, sebagian pengunjung melanjutkan perjalanan untuk sampai ke annapurna base camp, berada pada 4130 meter diatas permukaan laut, sebuah lokasi utama bagi yang ingin menginjakkan kaki dihamparan salju di lereng gunung annapurna, sebagian kembali ke nayapul melalui jalan yang memutar, dibutuhkan dua malam lagi dengan bermalam thadapani, dan gandruk.

Dua belas hari sesudah pesawat mendaratkan saya di khatmandu, saya pun kembali. Belum semua tentang nepal saya pelajari, Annapurna dan Everest berada dalam dua sisi yang berjauhan, terletak masing-masing belahan barat dan timurnya. Cerita tentang bagaimana kopi dan teh yang menjadi minuman pavorit yang ditanam disini belum saya jumpai. Pun saya tidak sempat menaklukan puncak annapurna, mungkin hanya menyajikan foto lereng dalam jarak terdekat sudah cukup memuaskan saya.



Poon Hill

Nepal sebuah negara yang mempesona untuk didalami, selalu menarik bagi pemotret atau para antropolog mengabadikan kisahnya, menikam kata menjadi untaian puisi, meresap hening, hingga terkenang dalam berbagai mimpi diperaduan, lalu menggoda tuk kembali lagi. Tak heran setiap waktu makin banyak pesawat komersial dari berbagai arah penjuru angin singgah dan menambatkan pelabuhannya disini, Khatmandu bukan bandara transit, semua yang mendarat pasti membawa penumpang dimana Nepal adalah tujuannya. Mereka pun bisa meresapi aroma himalaya tanpa harus menjelajahi kakinya diantara tebing dan ngarai, dapat menyaksikan peninggalan kejayaan masa lampau di Kota Khatmandu dan Baktaphur yang bertahan dari gempa bumi semusim yang lalu.

Budha mungkin tersenyum riang, negeri tempat ia dilahirkan menjadi ramai oleh semua umat beragama dan suku bangsa didunia ini, mereka tidak saja berziarah, tapi bertitarah atau pun menetap lalu larut dalam hening sunyinya bersama suara burung gagak yang terasa rindu jika ditinggalkan.



Catatan: Tai Oak adalah pemilik situs american bhogee, situs yang berisi filosofi2 tentang kehidupan yang telah ia alami




#nepal #travel #khatmandu #backpackerkenepal #trackingdinepal #travelingphotography #PoonHill

Follow Us
No tags yet.
Search By Tags
Archive
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square